CLICK HERE FOR FREE BLOGGER TEMPLATES, LINK BUTTONS AND MORE! »

Translate here..

Kamis, 18 Juli 2013

Dangdut, Ada Apa denganmu?

Dangdut. Ya, genre musik yang bisa dibilang Indonesia banget di ranah nusantara. Genre musik yang sangat popular dan diminati oleh pendengar musik dari berbagai usia. Bahkan, salah satu grup musik Indonesia pernah memproklamirkan Dangdut sebagai musik nusantara dalam lagu yang berjudul "Dangdut Is The Music Of My COountry". Oke, saya paham. Dan oke, saya setuju dengan ulasan di atas. 

Meskipun demikian, dangdut tak pernah membuat pikiran saya berhenti bertanya. Mengapa begini? Mengapa begitu?

Memang sih, dangdut itu popular bangetnget. Kebanyakan lagu dangdut yang baru dirilis langsut jadi hit. Penyanyi genre lain biasanya butuh waktu sebelum lagunya meledak. Tetapi dangdut lain, langsung hampir tenar. Pertanyaan saya... mengapa bisa?

Apa karena kebanyakan yang nyanyi cantik-cantik dan seksi? Atau gara-gara goyangannya yang menggelegar? Saya tak menilai dari segi suara karena saya bukan seorang pro. Tapi kebanyakn penyanyi dangdut seperti itu... Apa gara-gara penyanyinya terus lagunya jadi top hits? Entah
Kemudian, kebanyakan dangdut yang dirilis akhir-akhir ini punya lirik yang kurang baik. lihat saja cint* sat* m*lam. Itu lagu mengajarkan hal yang tidak baik. Kenapa kalau emang cinta tidak dipertahankan sampai akhir hayat. Kenapa cuma satu malam? Kenapaaaaa??? Ada lagi alamat palsu. kenapa percaya banget sama dianyaaaa....?? Kenapa mau aja ditinggalin alamat. Kenapa enggak nomor yang bisa dihubungi? Kenapaaaa?? Kenapaaaaaaaa??? Ah... memang lirik lagu dangdut baru yang hits (kebanyakan) hanya mencari sensasi. Lihat saja iwak pey*k. tak jarang pula lirik dangdut yang bercerita soal kemalangan itu menyerempet ke kategori orang dewasa(yang jelas enggak baik banget untuk anak-anak).  Ah, Dangdut, ada apa denganmu? 

Mungkin pertanyaan ini bisa dijawab dengan kata... sensasional. Besar kemungkinan produser dangdut berpikir kalau sesuatu yang sensasional itu adalah cara instan meraih uang dan popularitas. Berbeda dengan dangdut zamannya rhoma irama, yang benar-benar mengedepankan mutu. 

Perbaikan mutu dan kualitas. Itulah yang dangdut butuhkan menurut saya. Mungkin saya akan lebih menghargai dangdut, apabila penyanyinya berpakaian sopan dan pantas. Bukan cuma pakaian, tetapi juga goyangan. Apalah gunanya mengumbar goyang apabila hanya memperbanyak dosa. Lihat saja Rhoma Irama yang tetap menjadi legenda meskipun tanpa goyangan. Selain itu, dari segi lirik. Mungkin perhatian saya pada dangdut dapat bertambah apabila lirik yang bernada negatif dan tidak bermutu itu diganti dengan sesuatu yang positif dan membangun. 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar